MAKALAH EKOLOGI HEWAN KERAGAMAN DAN DISTRIBUSI VERTIKAL KUMBANG TINJA SCARABAEIDS (COLEOPTERA : SCARABAEIDAE) DI HUTAN TROPIS BASAH PEGUNUNGAN TAMAN NASIONAL GEDE PANGRANGO, JAWA BARAT, INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kumbang tinja scarabaeids (scarabaeids dungbeetles) merupakan salah satu kelompok dalam famili Scarabaeidae (Insecta: Coleoptera) yang dikenal karena hidupnya pada tinja. Anggota dari famili Scarabaeidae yang lain sebagai pemakan tumbuhan (Borror et al., 1992). Beberapa family lain misalnya: Histeridae, Staphylinidae, Hydrophilidae dan Silphidae juga hidup pada tinja namun tidak termasuk kelompok kumbang tinja karena mereka tidak mengkonsumsi tinja tetapi predator dari arthropoda yang hidup pada tinja (Britton, 1970; Hanskin and Cambefort, 1991; Hanskin and Krikken, 1991; Krikken, 1989).
Keberadaan kumbang tinja erat kaitannya dengan satwa, karena ia sangat tergantung kepada tinja satwa sebagai sumber pakan dan substrat untuk melakukaan reproduksinya. Kumbang tinja scarabaeids merupakan komponen penting dalam ekosistem hutan tropis (Davis, 1993; Hanskin and Cambefort, 1991; Hanskin and Krikken, 1991). Kumbang tinja di hutan dapat berfungsi sebagai pedegradasi materi organik yang berupa tinja satwa liar terutama mamalia, dan kadang-kadang burung dan reptil. Tinja diuraikan oleh kumbang menjadi partikel dan senyawa sederhana dalam proses yang dikenal dengan daur ulang unsur hara atau siklus hara. Peran lain dari kumbang tinja di alam adalah sebagai penyebar pupuk alam, membantu aerasi tanah, pengontrol parasit (Thomas, 2001), dan penyerbuk bunga Araceae (Sakai and Inoue, 1999). Oleh karena fungsinya yang sangat penting dalam ekosistem, maka Primark (1998) menyatakan bahwa kumbang tinja merupakan jenis kunci (keystone species) pada suatu ekosistem.
Dalam suatu ekosistem hutan, setiap jenis satwa liar mempunyai daerah distribusi atau relung dan kelimpahan yang berbeda-beda pada suatu lingkungan, sehingga keberadaannya akan mempengaruhi keragaman dan kelimpahan kumbang tinja scarabaeids (Hanskin and Cambefort, 1991). Tingginya keragaman jenis satwa akan mengakibatkan pada tingginya keragaman jenis kumbang tinja, serta tingginya populasi satwa akan mengakibatkan pada tingginya populasi kumbang tinja yang memakannya.
Davis dan Sulton (1998) menyatakan bahwa kumbang tinja penting sebagai indikator biologi, dimana pada lingkungan yang berbeda akan mempunyai struktur dan distribusi kumbang tinja yang berbeda pula. Walaupun penelitian spesifikasi atau spesialisasi jenis kumbang tinja terhadap tinja jenis satwa tertentu adalah penting, namun belum ada publikasi yang telah dilaporkan. Kajian khusus tentang peran dan fungsi kumbang tinja scarabeid dalam ekosistem hutan tropis pegunungan juga baru sedikit diketahui (Primack, 1998; Hanskin and Krikken, 1991).
Kawasan hutan pegunungan Taman Nasional Gede Pangrango merupakan ekosistem beriklim tropis basah pegunungan yang kondisi lingkungannya relatif masih baik, sebagai habitat yang aman bagi jenis-jenis mamalia langka dan dilindungi, misalnya: owa jawa (Hylobates moloch), surili (Presbytis comata), lutung (Trachypithecus auratus), macan tutul (Pantera Pardus), kucing akar (Mustela flagigula), kucing hutan (Prionailurus bengalensis), anjing hutan (Cuon alpinus javanica), sigung (Mydaus javanensis), kijang (Muntiacus muntjak), kancil (Tragulus javanicus) dan banyak jenis mamalia kecil, burung dan reptilia (MZB, spesimen koleksi; Departemen Kehutanan, 2000).
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan keragaman dan kelimpahan kumbang tinja scarabaeids di kawasan hutan tropis basah pegunungan T.N. Gede Pangrango serta mengetahui distribusinya pada ketinggian yang berbeda. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran terhadap kekayaan kawasan yang dikaitkan dengan keragaman dan kelimpahan kumbang tinja scarabaeids pada setiap ketinggian, yang dapat dipakai sebagai indikator terhadap keragaman dan kelimpahan satwa liar, kualitas lingkungan dan monitoring perubahannya yang akan terjadi.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah keragaman dan kelimpahan kumbang tinja scarabaeids di kawasan hutan tropis basah pegunungan T.N. Gede Pangrango ?
2. Bagaimanakah distribusi vertikal keragaman dan kelimpahan kumbang tinja scarabaeids di kawasan hutan tropis basah pegunungan T.N. Gede Pangrango pada ketinggian yang berbeda ?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui keragaman dan kelimpahan kumbang tinja scarabaeids di
kawasan hutan tropis basah pegunungan T.N. Gede Pangrango
2. Untuk mengetahui distribusi vertikal keragaman dan kelimpahan kumbang tinja scarabaeids di kawasan hutan tropis basah pegunungan T.N. Gede Pangrango pada ketinggian yang berbeda

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan umum tentang kumbang tinja
Salah satu pengurai yang paling aneh adalah KUMBANG TINJA (SCARABEIDAE). Nama scarabidae ini diambil dari jenis larva nya yang berbentuk scarabaciform, umumnya disebut “Gendon” seperti lindi, dengan tubuh biasanya melengkung yang antenanya pendek. Bagian kepala yang berkembang baik dengan kaki –kaki thoraks dan tanpa kaki semu pada abdomen.
Seperti namanya Kumbang ini suka makan kotoran hewan. Sebagian kotoran di dunia ini dihasilkan oleh megaherbivora, seperti sapi, kuda dan gajah. Sistem pencernaan mereka hanya bisa mencerna sebagian kecil tumbuhan yang mereka makan, sehingga kotoran mereka mengandung tumbuhan yang baru sebagian dicerna yang masih mengandung unsur hara.
2.2 Klasifikasi kumbang tinja

2.3 Karakter kumbang tinja
Kumbang tinja (dung beetles) merupakan anggota kelompok Coleoptera dari suku Scarabaeidae yang lebih dikenal sebagai scarab. Kumbang-kumbang ini mudah dikenali dengan bentuk tubuhnya yang cembung, bulat telur atau memanjang dengan tungkai bertarsi 5 ruas dan sungut 8-11 ruas dan berlembar. Tiga sampai tujuh ruas terakhir antena umumnya meluas menjadi struktur-struktur seperti lempeng yang dibentangkan sangat lebar atau bersatu membentuk satu gada ujung yang padat. Tibia tungkai depan membesar dengan tepi luar bergeligi atau berlekuk. Pada kelompok kumbang pemakan tinja bentuk kaki ini khas sebagai kaki penggali (Borror et al., 1989). Semua kumbang tinja adalah scarab tetapi tidak semua scarab merupakan kumbang tinja. Dari berbagai spesies kumbang yang sering ditemukan pada kotoran hewan, yang termasuk kumbang tinja sejati adalah dari superfamili Scarabaeoidea famili Scarabaeidae, Aphodiidae dan Geotrupidae (Cambefort 1991). Di Indonesia diperkirakan terdapat lebih dari 1000 jenis kumbangs car ab (Noerdjito, 2003).

2.4 Pembagian kumbang tinja
Kumbang tinja bisa dibagi menjadi tiga kelompok yaitu si pembuat bola, si pembuat terowongan, dan si penetap.

1.Kumbang kotoran pembuat bola
Jenis kumbang ini biasanya hidup pada habitat daerah tropis. Ketika si pembuat bola menemukan kotoran, kumbang ini memutar mutar bagian bagian kotoran hingga menjadi bola berukuran kecil atau sedang, lalu menggelindingkannya diatas tanah dari tumpukan kotoran ke liang mereka. Dia bisa menetap didalam terowongannya dan merawat telur – telur serta kumbang mudanya sampai tiga tahun. Beberapa ekor dari kumbang kotoran itu luar biasa kuatnya dan bisa mengerakkan bola – bola kotoran yang beratnya sampai 50 X dari berat tubuhnya. Jika manusia sekuat itu, seseorang manusia seberat 110 pon (50kg) bisa menggerakkan sebuah bola seberat 5.500 pon (2.500 kg) – hampir 3 ton.

2. Kumbang Kotoran Si Pembuat Terowongan
Jenis kumbang ini akan terbang sampai menemukan tumpukan kotoran yang bagus (kotoran sapi segar). Biasanya mereka berpasangan, kumbang ini kemudian memasuki tumpukan kotoran tersebut lalu menggali terowongan di dalamnya. Kumbang kotoran betina akan tinggal dalam terowongan dan memilih-milih kotoran yang telah digali kumbang jantan dari permukaan.

3. Kumbang Kotoran Si Penetap
Jenis kumbang ini biasanya membangun rumahnya dalam kotoran itu. Jenis kumbang ini bertelur disana dan ketika larva menetas, dengan gembira mereka memakan isi rumah. Dengan membawa kotoran si bawah permukaan tanah, kumbang kotoran membantu mendaur ulang unsur hara di dalam kotoran dengan mengembalikannya kedalam tanah untuk digunakan oleh tumbuhan.

2.5 Manfaat kumbang tinja
Ada beberapa manfaat kumbang tinja diantaranya:
1. Dari perilaku makan dan reproduksi yang dilakukan di sekitar tinja, maka kumbang tinja membantu menyebarkan dan menguraikan tinja sehingga tidak menumpuk di suatu tempat
2. Karena sifatnya yang membenamkan tinja, kumbang dapat memperbaiki kesuburan dan aerasi tanah, serta meningkatkan laju siklus nutrisi
3. Kumbang tinja merupakan agen pengendali hayati yang efektif untuk parasit pada saluran pencernaan hewan ternak. Hal ini karena umumnya telur-telur parasit tersebut terikut dalam kotoran sapi dan berkembang sampai menjadi stadium infektif dalam kotoran dan berpindah ke rerumputan yang kemudian termakan oleh ternak. Dengan memakan telur parasit pada kotoran maka siklus hidup parasit tersebut terputus.
4. Kumbang tinja dalam ekosistem adalah sebagai agen penyebar biji tumbuhan dengan jalan membenamkan biji yang terdapat pada kotoran hewan ke dalam tanah sehingga mendukung terjadinya perkecambahan biji. Biji yang tidak dibenamkan oleh kumbang tinja sangat rawan terhadap predasi oleh tikus dan hewan pengerat lainnya. seperti Orchidantha inouei (Lowiaceae, Zingiberales). Tumbuhan ini mengeluarkan bau mirip kotoran hewan sehingga menarik kedatangan kumbang tinja.
5. Kumbang tinja juga memiliki kemampuan untuk mensintesis senyawa antimikroba, terbukti dari kemampuannya untuk tetap hidup dan berkembang biak pada kotoran hewan yang dipenuhi berbagai jenis mikroba (jamur dan bakteri) serta nematoda parasit (sumber senyawa antimikroba).
6. Kumbang tinja merupakan agen pengendali hayati yang sangat efektif dalam mengontrol populasi lalat yang banyak berkumpul di kotoran sapi. Dengan menghilangkan kotoran ternak secara cepat dari permukaan tanah maka kumbang tinja mengurangi peluang perkembangbiakan vektor berbagai jenis penyakit tersebut
2.6 Persebaran kumbang tinja

BAB III
BAHAN DAN METODE

3.1. Waktu dan lokasi
Penelitian ini dilakukan mulai bulan April-Mei 2004 di Taman Nasional Gede Pangrango dengan posisi geografis 10602’12”–107013’25” BT dan 602’55”-6051’0” LS, secara administratif termasuk dalam tiga wilayah kabupaten yaitu Bogor, Cianjur dan Sukabumi (Jawa Barat), dan mencakup luasan wilayah 15196 Ha (Departemen Kehutanan, 2000). Secara umum, ekosistem atau tipe hutan di kawasan T.N. Gede Pangrango dibedakan menjadi: (1) kawasan sub montana (1000–1500 m dpl), (2) kawasan montana (1500- 2400m), dan (3) kawasan sub alpin (2400-3013m). Selain daripada itu, dalam kawasan T.N. Gede Pangrango terdapat pula ekosistem yang khas yaitu ekosistem rawa dan danau (Departemen Kehutanan, 2000).

3.2. Alat dan bahan
Alat dan bahan yang diperlukan adalah jebakan tinja (dung traps) yang terdiri dari tiga komponen utama yaitu: tinja segar manusia sebesar ibu jari tangan manusia dewasa yang dibungkus dengan kain kasa dan digantung di atas cawan pengumpul; cawan pengumpul yang berdiameter lingkaran atas dan kedalaman 14 x 10cm; dan campuran cairan dengan komposisi air 1 liter : sabun cair 3 senduk makan : garam dapur 3 senduk makan, yang dituangkan sampai setengah dari tinggi cawan. Dung traps tersebut dibiarkan di lapangan selama 24 jam sebelum dikoleksi kembali.

3.3. Metode
Telah dilakukan penelitian oleh para peneliti kumbang tinja scarabaeids sebelumnya bahwa tinja manusia sangat baik sebagai umpan untuk menarik kumbang tinja scarabaeids. Pengambilan sampel kumbang dilakukan dengan memasang jebakan tinja (dung traps) yang terdiri dari tiga komponen utama yaitu: tinja segar manusia sebesar ibu jari tangan manusia dewasa yang dibungkus dengan kain kasa dan digantung di atas cawan pengumpul; cawan pengumpul yang berdiameter lingkaran atas dan kedalaman 14 x 10cm; dan campuran cairan dengan komposisi air 1 liter : sabun cair 3 senduk makan : garam dapur 3 senduk makan, yang dituangkan sampai setengah dari tinggi cawan. Dung traps tersebut dibiarkan di lapangan selama 24 jam sebelum dikoleksi kembali.
Sampel diambil berdasarkan 4 kategori ketinggian (sampling sites) yaitu: 500-1000m, 1001-1500m, 1501- 2000m dan 2001-2500m dpl. Pada setiap sampling site dipasang 5 perangkap tinja yang masing-masing jebakan berbeda ketinggian kira-kira 100m yang dipasang lurus mengikuti jalur pendakian ke puncak gunung T.N. Gede Pangrango. Di T.N. Gede Pangrango terdapat lima (5) jalur pendakian menuju puncak gunung yaitu jalur Cibodas, Selabintana, Gunung Putri, Bodogol dan Situ Gunung.
Pemisahan sampel, menghitung individu dan identifikasi jenis kumbang tinja scarabaeids dilakukan di laboratorium Entomologi, Museum Zoologicum Bogoriense (MZB), Pusat Penelitian Biologi-LIPI. Identifikasi dengan cara morfospesies yang sudah umum dilakukan oleh peneliti ekologi dengan menggunakan referensi praktis, membandingkan dengan spesimen koleksi MZB, dan bertanya dan klarifikasi dengan ahli di bidangnya.

3.4. Analisis Data
Analisis data keragaman kumbang tinja scarabaeids dilakukan dengan menghitung indeks keragaman Shanon- Winner, nilai evennes, indeks kesamaan Jaccard (Cj) dan Sorenson (Cn) pada setiap interval ketinggian yang telah ditentukan (Maguran, 1988; Stork, 1988).

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Keragaman dan Kelimpahan

Dalam penelitian ini ditemukan sebanyak 1052 individu kumbang tinja scarabaeids, yang terdiri dari 5 genus (Copris, Onthophagus, Paragymnopleurus, Catarsius dan Phacosoma) dan 28 jenis. Keragaman tertinggi diantara genus tersebut adalah Onthophagus yang terdiri dari 21 jenis (75% dari seluruh jenis yang ditemukan), kemudian disusul berturut-turut oleh Copris (3 jenis atau 10,7%), Paragymnopleurus (2 jenis atau 7,1%), Catarsius dan Phacosoma (masing-masing 1 jenis atau 3,6%) (Tabel 1).
Kelimpahan individu kumbang tinja scarabaeids pada setiap genus yang tertinggi adalah pada Onthophagus (991 individu atau 94,20% dari seluruh individu yang ditemukan), disusul berturut-turut oleh Phacosoma (45 individu atau 4,3%), Copris (9 individu atau 0,86%), Paragymnopleurus (5 individu atau 0,5%) dan Catarsius (2 individu atau 0,2%). Kelimpahan individu pada setiap jenis kumbang tinja scarabaeids yang tertinggi adalah Onthophagus variolaris (382 individu; 36,31% dari total individu), yang disusul secara berturut-turut oleh Onthophagus sp 2 (146; 13,88%), O. pacificus (140; 13,31%), O. melangensis (92; 8,75%), O. avoceta (59; 5,61%); Phacosoma punctatus (45; 4,28%), O. variolaris Lansb (38; 3,61%), O. javanensis (31; 2,95%), Onthophagus sp 1 (19; 1,81%), O. aurifex dan O. dresceru (masing-masing 16; 1,525%), O. sumatranus (12; 1,14%), O. angustatus (9; 0,86%), O. diabolicus (8; 0,76%), O. hanskin’s sp. H (7; 0,67%), O. foedus (6; 0,57%), O.dentacolis (4; 0,38%), Copris agnus, C. punctulatus, C. synopsis dan Paragymnopleurus maurus (masing-masing 3; 0,29%), Catarsius molossus, O. tricornis dan P. sparsus (masing-masing 2; 0,19%), dan O. incisus, O. leavis, O. pauper, O. rudis (masing-masing 1; 0,1%) (Tabel 1).
Keragaman kumbang tinja scarabaeids di T.N. Gunung Pangrango tercatat sebanyak 28 jenis, sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan keragaman di daerah hutan dataran tinggi daerah Pa’Raye, T.N. Kayan Mentarang (Kalimantan Timur) sebanyak 26 jenis (Kahono and Rosichon, 2003), dan lebih rendah dibandingkan dengan keragaman di T.N. Kerinci Sebelat yaitu 40 jenis (Hariyanto, 2007).

Penyebab dari perbedaan keragaman jenis ini sangat wajar karena perbedaan lokasi, waktu dan tipe ekosistem pada setiap Taman Nasional tersebut. Klarifikasi terhadap identifikasi ulang bersama terhadap jenis-jenis yang diperbandingkan juga masih perlu dilakukan, sehingga perbedaan ini belum dapat untuk dipakai untuk menyimpulkan terhadap kualitas lingkungan masingmasing, misalnya ekosistem T.N. Kerinci Sebelat lebih baik daripada T.N. Gede Pangrango dan lebih baik daripada T.N. Kayan Mentarang.
Keragaman jenis dan kelimpahan individu kumbang tinja scarabaeids kelompok penggali tanah (tunellers) (misalnya jenis-jenis yang termasuk genus Copris, Onthophagus dan Catarsius) adalah tinggi di kawasan T.N. Gede Pangrango, yaitu 21 jenis dan 991 individu, demikian pula di T.N. Kerinci Sebelat (Hariyanto, 2007) dan T.N. Kayan Mentarang (Kahono and Rosichon, 2003).
Beberapa jenis kumbang tinja scarabaeids yang ditemukan di T.N. Gede Pangrango distribusinya luas, misalnya Paragymnopleurus molosus ditemukan juga di Aceh, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Bila dilihat dari komposisi jenisnya antara T.N. Gede Pangrango dan T.N. Kayan Mentarang mempunyai 7 jenis (7,8%) adalah jenis yang sama. Beberapa jenis distribusinya terbatas atau tidak diketahui di daerah lainnya, misalnya Phacosoma punctatus, Onthophagus melangensis, O. foedus, O. dresceru, dan Copris synopsis hanya ditemukan di Jawa Barat (koleksi MZB). Selama jenis-jenis tersebut belum ditemukan di daerah lain, maka dapat dikatakan bahwa jenis-jenis tersebut termasuk jenis endemik T.N. Gede Pangrango.
Keragaman jenis kumbang tinja scarabaeids yang tinggi pada ketinggian 500-1000m dapat disebabkan oleh tingginya keragaman dan kekayaan lingkungan termasuk jenis satwa yang hidup pada ketinggian tersebut. Sayangnya, belum ada publikasi tentang keragaman jenis kumbang tinja yang dikaitkan dengan keragaman tinja satwa untuk membantu membahas keberadaan kumbang tinja ini di T.N. Gede Pangrango. Melalui wawancara dengan penduduk lokal dan beberapa polisi hutan yang sering melakukan kegiatannya di hutan T.N. Gede Pangrango, menyatakan bahwa keragaman jenis satwa liar pada ketinggian hutan bagian kaki gunung lebih tinggi daripada di bagian yang lebih tinggi lainnya. Penelitian lanjutan tentang spesialisasi jenis kumbang tinja terhadap jenis tinja satwa liar perlu dilakukan di waktu yang akan datang. Keragaman jenis kumbang tinja semakin menurun pada ketinggian yang semakin tinggi (Tabel 2), hal ini juga didukung oleh analisis keragaman dengan indeks keragaman Shanon-Winner dan evennes-nya pada setiap interval ketinggian, yang menunjukkan adanya kecenderungan yang sama, yaitu semakin rendah ketinggian maka semakin tinggi indeks keragaman dan evennes-nya (Tabel 3). Nilai evennes yang tinggi menunjukkan tingginya keseragaman kelimpahan antar jenis pada ketinggian tersebut.
Fenomena umum di alam menunjukkan bahwa ketinggian menjadi faktor pembatas terhadap keragaman jenis. Beberapa jenis kumbang tinja scarabaeids mempunyai distribusi pada ketinggian rendah dan terbatas hanya pada 500-1000m yaitu Catarsius molossus, Copris agnus, C. punctulatus, Onthophagus leavis, Paragymnopleurus maurus dan P. sparsus. Beberapa jenis mempunyai distribusi mulai dari ketinggian yang rendah sampai rentang yang tinggi (500-2000m) yaitu Onthophagus angustatus, O. avoceta, O. dentacolis, O. diabolicus, O. javanensis, O. leavis, O. melangensis, O. pacificus, O. sumatranus, O. variolaris dan O. waterstradli. Namun, beberapa jenis kumbang tinja tertentu mempunyai kharakter sebaran distribusi yang khusus, misalnya Onthophagus sp 2 dan P. punctatus tidak ditemukan pada ketinggian rendah (500-1000m) tetapi pada tempat yang lebih tinggi. Beberapa jenis hanya ditemukan pada ketinggian tengah (1001-2000m) misalnya O. dresceru dan O. faedus. Jenis Copris synopsis hanya ada pada interval ketinggian 1501-2000m (Tabel 2). Tidak mudah untuk menjelaskan eksistensi mereka pada setiap ketinggian tersebut. Kaitannya dengan distribusi tinja satwa liar dan spesialisasi kumbang tinja terhadap lingkungan pada setiap ketinggian memerlukan penelitian lebih lanjut.
Indeks persamaan Jaccard dan Sorenson yang tertinggi adalah antar ketinggian 1001-1500m dan 1501- 2000m adalah 0,67 dan 0,64 (Tabel 4 dan 5), berarti 67% (menurut Jaccard) atau 64% (menurut Sorenson) dari jumlah jenis yang ditemukan di kedua interval ketinggian tersebut adalah jenis yang sama. Walaupun pada kedua interval ini nilai keragamannya bukan yang tertinggi, namun memiliki nilai kesamaan jenis dan kelimpahan individu yang tertinggi. Nilai ini (dapat) sebagai indicator bahwa kedua ketinggian tersebut memiliki keseragaman lingkungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan bila dibandingkan dengan ketinggian lainnya. Pada kedua ketinggian tersebut ekosistemnya paling mendukung kehidupan satwa liar penghasil tinja yang disukai kumbang tinja scarabaeids. Pada kedua kawasan ketinggian ini perlu mendapatkan perhatian dari pihak managemen T.N. Gede Pangrango sehingga kondisi yang baik ini dapat terus dipertahankan. Sebaliknya, antara interval ketinggian terendah (500-1000m) dan tertinggi (2001-2500m) mempunyai indeks kesamaan 0 (nol), berarti jenis yang ada di kedua interval ketinggian tersebut adalah berbeda sama sekali (tidak ada jenis yang sama). Pada kedua ketinggian tersebut memiliki faktor pembatas lingkungan yang berbeda, dimana pada ketinggian 2001- 2500m mempunyai suhu yang lebih dingin dan lingkungan yang lebih homogen (Mirmanto, komunikasi pribadi), sehingga hanya jenis satwa liar dan kumbang tinja scarabaeids yang beradaptasi dalam lingkungan tersebut saja yang dijumpai. Komunitas yang hidup di lingkungan yang mempunyai karakter seperti tadi sangat rentan terhadap terjadinya perubahan lingkungan.

Kelimpahan

Kelimpahan individu kumbang tinja scarabaeids tertinggi terjadi pada sampel yang dikoleksi pada ketinggian 1001-1500m dan 1501-2000m, menunjukkan bahwa pada ketinggian tersebut mungkin mempunyai lingkungan dan sumber pakan yang berupa tinja satwa liar yang paling mendukung kehidupannya. Melalui pengamatan jejak dan wawancara dengan penduduk local dan beberapa polisi hutan yang sering melakukan kegiatannya di hutan T.N. Gede Pangrango, menyimpulkan bahwa populasi macan tutul dan rusa pada ketinggian tersebut adalah paling tinggi. Kelimpahan individu satwa liar melalui perjumpaan, jejak dan tinja satwa liar lebih banyak ditemukan pada ketinggian tersebut (Kahono, dalam persiapan). Kelimpahan individu yang terendah terjadi pada ketinggian 2001-2500m menunjukkan keterbatasan lingkungannya termasuk terbatasnya jumlah tinja pada ketinggian tersebut.
Pada ketinggian 500-1000m, mempunyai lingkungan yang paling kaya sehingga sangat logis apabila keragaman kumbang tinja juga paling tinggi (23 jenis), tetapi dengan rendahnya kelimpahan individu setiap jenisnya menunjukkan adanya kompetisi yang tinggi pada lingkungan tersebut dan/atau telah terjadi penurunan kualitas lingkungannya yang disebabkan oleh berbagai gangguan misalnya penebangan liar, perburuan satwa, dan wisata masa (mass tourism). Untuk kepentingan managemen konservasi keragaman hayati (satwa liar dan habitatnya), maka data ini merupakan masukan penting untuk merancang strategi pengelolaan satwa liar dan habitatnya pada daerah tersebut.

Distribusi Vertikal

Dari pengambilan sampel dari empat ketinggian yang berbeda maka diperoleh keragaman jenis kumbang tinja scarabaeids yang tertinggi pada ketinggian 500-1000m (23 jenis), kemudian diikuti berturut-turut pada ketinggian 1001- 1500m (16 jenis), 1501-2000m (14 jenis) dan 2001-2500m (2 jenis) (Tabel 2). Jenis-jenis C. molossus, C. agnus, C. punctulatus, O. leavis, P. maurus dan P. sparsus mempunyai distribusi vertikal yang terbatas hanya pada interval ketinggian yang rendah yaitu 500-1000m. Sebaliknya, jenis-jenis O. angustatus, O. avoceta, O. dentacolis, O. diabolicus, O. javanensis, O. leavis, O. melangensis, O. pacificus, O. sumatranus, O. variolaris, O. waterstradli mempunyai distribusi vertikal yang lebih lebar yaitu 500-2000m. Jenis C. synopsis hanya dijumpai berada pada interval ketinggian 1501-2000m.
Dari data kelimpahan individu, maka ketinggian 1001- 1500m dan 1501-2000m mempunyai kelimpahan individu kumbang tinja paling tinggi (masing-masing 479 individu), sebaliknya kelimpahan yang rendah terjadi pada ketinggian 500-1000m (86 individu) dan yang terendah terjadi pada ketinggian 2001-2500m (8 individu) (Tabel 2).

BAB V
KESIMPULAN

1. Keragaman jenis kumbang tinja scarabaeids di hutan tropis basah pegunungan T.N. Gede Pangrango adalah 28 jenis. Keragaman jenis semakin menurun pada ketinggian yang semakin meninggi.
2. Keragaman jenis kumbang tinja scarabaeids tinggi namun kelimpahan individunya rendah pada ketinggian 500-1000m dapat dipakai sebagai petunjuk terhadap penurunan kualitas lingkungan terutama kelimpahan tinja pada ketinggian tersebut.
3. Kelimpahan individu kumbang tinja yang paling tinggi pada ketinggian 1001-2000m memberikan petunjuk terhadap kelimpahan sumber pakan pada ketinggian tersebut.
4. Dari data kelimpahan individu, maka ketinggian 1001-1500m dan 1501-2000m mempunyai kelimpahan individu kumbang tinja paling tinggi (masing-masing 479 individu), sebaliknya kelimpahan yang rendah terjadi pada ketinggian 500-1000m (86 individu) dan yang terendah terjadi pada ketinggian 2001-2500m (8 individu)

DAFTAR PUSTAKA

Borror DJ, Triplehorn CA and Johnson NF. 1992. Introduce to Entomology. Diterjemahkan oleh S. Partosoedjono. Edisi ke-6. UGM Press.
Britton EB. 1970. Coleoptera. The Insects of Australia Division of
Entomology, CSIRO Canberra. 495-621.
Davis AJ. 1993. The Ecology and Behavior of Dung Beeltes in Norther
Borneo. University of Leeds, England (Unpublished Ph.D. Thesis).
Davis AJ and Sulton SL. 1998. The effect of rainforest canopy loss on
arboreal dung beetles in Borneo: implications for measurement of
biodiversity in derived tropical ecosyatems. Diversity and Distributions 4,
167-475.
Departemen Kehutanan. 2000. Laporan Pelaksanaan Kegiatan Survey
Populasi dan Distribusi Predator. Taman Nasional Gede Pangrango.
Hanskin’s I and Krikken J. 1991. Dung Beetles in Tropical Forests in
Southeast Asia. Dalam: Dung Beetle Ecology. Hanskin’s I and
Cambefort Y (Eds.). Hlm 179-197.
Hanskin’s I and Cambefort Y (Eds.). 1991. Dung Beetle Ecology. Princeton
University Press.
Hariyanto N. 2007. Keanekaragaman jenis kumbang tinja (Coleoptera:
Scarabaeoidea) pada berbagai tipe habitat di sekitar kawasan Taman
Nasional Kerinci Sebelat (TNKS). [Thesis Sarjana]. Universitas Negeri
Jakarta.
Kahono S dan Ubaidillah R. 2003. Diversity And Abundance Of Dung Beetle
(Scarabaeidae: Coleptera) Dalam: Tropical Rainforest Around Pa’raye
Village, Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan Kayan Mentarang
National Park, East Kalimantan. Mardiastuti dan Soeharto (Editor). Join
Biodiversity Expedition in Kayan Mentarang National Park.
Krikken J. 1989. Scarabaeid Dung and Carrion Beetle (Coleoptera:
Scarabaeidae) and Their Ecological Significance. Petunjuk Identifikasi
Kumbang Scarabaeidae. Sulawesi Tengah.
Maguran AE. 1988. Ecological Diversity and Its Measurement. Princeton
University Press. New Jersey.
Primack RB, Supriatna J, Indrawan M dan Kramadibrata P. 1988. Biologi
Konservasi. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.
Primack R. 1998. Essentials of Conservation Biology. 2nd Edition. Boston
University, Sinawer Associates. 659 Hlm.
Sakai S and Inoue T. 1999. A new pollination system: dung-beetle pollination
discovered in Orchidantha inouei (Lowiaceae, Zingiberales) Sarawak,
Malaysia. American Journal of Botany 86 (1), 56-61.
Stork NE. 1988. Insect Diversity: Facts, Fiction and Speculation. Bio. J. of
Linn. Soc. 35, 321-337.
Thomas ML. 2001. Dung Beetle Benefits in The Pasture Ecosystem. ATTRA
(Appropriate Technology Transfer for Rural Area) articles. 9 Hlm.

LAMPIRAN
Berbagai macam gambar Kumbang Tinja scarabaeids (scarabaeids dungbeetles)

MAKALAH EKOLOGI HEWAN

KERAGAMAN DAN DISTRIBUSI VERTIKAL KUMBANG TINJA SCARABAEIDS (COLEOPTERA : SCARABAEIDAE) DI HUTAN TROPIS BASAH PEGUNUNGAN TAMAN NASIONAL GEDE PANGRANGO, JAWA BARAT, INDONESIA

OLEH :
AGUSTIN ANDRIANA (080710209)
THERESIA V BR D (080710381)
NERRI TYNO P (080710468)
TOMMY FINGKY P (080710471)

DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2010

About theresiavalendepari

Ketawaa slaluu ngakakk... ;D
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s